Tiga Lembaga Pangan Ini Ingatkan Publik Soal “Keamanan” Produk Kemasan Guna Ulang

KORANDAERAH. COM, JAKARTA-Tiga lembaga yang bergerak dibidang pangan yakni Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selaku badan regulasi terkait keamanan pangan, Institut Pertanian Bogor (IPB) selaku peneliti pengembangan teknologi kemasan pangan, dan Danone-AQUA sebagai salah satu pelaku industri penyedia pangan dalam kemasan, sepakat mendorong publik untuk lebih bijak mencermati “keamanan produk” ketika berbelanja kebutuhan sehari-hari. Kepedulian itu terungkap saat digelarnya webinar atau seminar online (virtur) yang digelar Rabu (20/5/2020).

Webinar menghadirkan tiga narasumber, masing-masing Dra. Sutanti Siti Namtini, Apt., PhD., Direktur Standarisasi Pangan Olahan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM), Dr. Eko Hari Purnomo, Pakar Tekologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Arsadi Hendranu, Food Safety Director Danone-AQUA .

Dra. Sutanti Siti Namtini, Apt., PhD., Direktur Standarisasi Pangan Olahan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM), Foto :Istimewa

Adapun, para narasumber mendorong konsumen agar lebih bijak mencermati keamanan produk ketika berbelanja kebutuhan sehari-hari. Pada webinar bersama media hari ini, ketiga lembaga tersebut memaparkan perannya masing-masing dalam memastikan keamanan produk dan tips agar konsumen dapat lebih cermat ketika berbelanja.

Menurut Direktur Standardisasi Pangan Olahan BPOM Dra. Sutanti Siti Namtini, Apt., PhD mengatakan, pihaknya dalam hal ini BPOM memiliki serangkaian regulasi terkait keamanan pangan yang harus dipatuhi dan menjadi acuan setiap produsen.

Ia menjelaskan, bahwa produk dengan kemasan apa pun, baik yang sekali pakai maupun yang guna ulang seperti kemasan galon, harus memenuhi semua syarat dalam regulasi terkait untuk memastikan keamanannya.

Dr. Eko Hari Purnomo, Pakar Tekologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Sumber Foto:Istimewa

“Oleh karena itu, setiap kali membeli produk, masyarakat perlu mencermati kondisi kemasan dan produknya. Pilihlah produk dengan kondisi yang baik, perhatikan waktu kedaluwarsa produk, dan periksa Nomor Izin Edar (NIE) yang diterbitkan BPOM pada label karena nomor ini menandakan pemenuhan persyaratan pangan terhadap keamanan, mutu, dan gizi.”

Untuk itu lanjutnya, bahwa dalam mengikuti regulasi dari BPOM, pelaku usaha telah menjaga keamanan fasilitas produksi mereka dengan berbagai cara dan inovasi.

Sementara itu, Food Safety Director Danone-AQUA Arsadi Hendranu menegaskan, seluruh produk kemasan galon wajib melalui proses pencucian dan disinfeksi dengan standard quality control (QC) yang ketat sebelum diisi ulang.

Adapun, proses isi ulang harus dilakukan di ruang dengan standard hygiene yang tinggi menggunakan tekanan positif dan filter udara khusus dan tanpa kontak langsung dengan manusia.

Arsadi-Hendranu-Food-Safety-Director-Danone-AQUA. Foto:Istimewa

“Jadi, produk kami juga secara rutin diuji lewat 400 parameter kualitas untuk menjamin pemenuhan standar keamanan pangan dan kualitas terbaik. Sebagai tambahan dari pedoman BPOM, kami juga mengacu pada standar Danone global dan fasilitas produksi kami telah tersertifikasi sistem jaminan keamanan pangan internasional,” ujar Food Safety System Certification (FSSC) 22000 itu.

Sedangkan, pakar Teknologi Pangan dari Institut Pertanian Bogor Dr. Eko Hari Purnomo menjelaskan bahwa teknologi pangan telah berinovasi sejak lama untuk membantu memastikan produk yang sampai di tangan konsumen aman dan bermutu.Menurutnya, bagi setiap industri pangan, salah satu cara untuk menjamin mutu dan keamanan adalah dengan mematuhi peraturan dan standar dari lembaga seperti BPOM.

“Inovasi apa pun yang diciptakan perusahaan perlu mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku dari pemerintah dan memenuhi standar dan regulasi oleh lembaga yang berwenang seperti BPOM serta Standar Nasional Indonesia (SNI),” kata Eko.

Foto Kemasan Galon Air Guna Ulang (Foto:Dok/Lidya)

“Jadi, jika kita mengambil air mineral dalam kemasan galon guna ulang sebagai contoh, inovasi kemasan bertujuan untuk setidaknya menjaga kualitas dan keamanan air dengan menghindari rekontaminasi dan mencegah migrasi bahan kimia dari kemasan selama distribusi dan penyimpanan. Ini merupakan keharusan untuk setiap pelaku industri sejak kemasan galon guna ulang diperkenalkan di pasaran di tahun 1980 -an,” tutupnya dalam keterangan pers diterima media di Jakarta. (LD/RED).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: